Outbound Batu Malang

Wilayah wisata outbound malang Kota wisata Batu sangatlah strategis dengan  terletak di dataran tinggi lebih tepatnya di bawah kaki Gunung Panderman,mempunyai rata-rata ketinggian dari 700 sampai 1600meter di atas permukaan laut,menurut jejak-jejak sejarah yang ada yaitu berdasarkan sumbe-sumber kisah orang tua maupun dokumen yang ada maupun yang dilacak keberadaannya mengenai seluk-beluk kota wisata batu tempo dulu,sampai saat ini belum diketahui tentang dari mana dan sejak kapan nama “B A T U” mulai disebut untuk menamai sebuah kawasan di kaki gunung yang digunakan oleh para keluarga kerajaan dan bangsa kolonial belanda sebagai tempat membangun lokasi peristirahatan.

Dari beberapa sumber cerita masyarakat yang beredar,asal mula wisata outbound malang sebutan nama batu berasala dari seseorang ulama pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama Abu Ghonaim atau disebut sebagai Kyai Gubug Angin yang masyarakat akrab menyebutnya dengan panggilan Mbah Wastu.agar lebih singkat penyebutannya serta lebih cepat bila memanggil seseorang,wisata outbound malang akhirnya lambat laun sebutan Mbah Wastu dipanggil Mbah Tu menjadi Mbatu atau batu sebagai sebutan cikal bakal sebuah nama yang digunakan untuk Kota Dingin di Jawa Timur yaitu kota wisata batu saat ini.

Sedikit menengok ke belakang tentang sejarah asal mula kota wisata batu,sebenarnya Abu Ghonaim sendiri adalah berasal dari JawaTengah dan beliau adalah pengikut Pangeran Diponegoro yang setia, yang sengaja meninggalkan daerah asalnya Jawa Tengah dan hijrah dikaki Gunung Panderman untuk menghindari pengejaran dan penangkapan dari serdadu Belanda pada waktu itu. keberadaan Abu Ghonaim sebagai orang yang dikenal pemuka masyarakat yang memulai babat alas dan diambil sebagai penamaan dari sebutan wilayah Batu, Abu Ghonaim atau Mbah Wastu yang memulai kehidupan barunya bersama dengan masyarakat yang ada sebelumnya ikut serta dalam berbagi rasa,pengetahuan dan ajaran yang diperolehnya semasa menjadi pengikut Pangeran Diponegoro. Akhirnya banyak penduduk sekitarnya dan masyarakat lain berduyun-duyun datang dan menetap untuk berguru, menuntut ilmu serta belajar agama kepada Mbah Wastu.

Bermula mereka hidup dalam kelompok kecil yang tersebar di 3 lokasi berbeda dan diantaranya berada di daerah Bumiaji,temas,dan sisir yang kita kenal sekarang, akhirnya lambat laun komunitasnya semakin besar dan banyak serta menjadi suatu masyarakat yang ramai.

Sebagai layaknya Wilayah Pegunungan yang wilayahnya subur, Batu dan sekitarnya juga memiliki Panorama Alam yang indah dan berudara sejuk, tentunya hal ini akan menarik minat masyarakat lain untuk mengunjungi dan menikmati Batu sebagai kawasan pegunungan yang mempunyai daya tarik tersendiri. Untuk itulah di awal abad 19 Batu berkembang menjadi sebuah daerah tujuan wisata, khususnya orang-orang Belanda yang tersihir dengan keindahan kota wisata batu,sehingga banyak orang-orang Belanda itu pun membangun tempat-tempat Peristirahatan atau yang lebih akrab kita sebut Villa,dan bahkan banyak dari mereka yang bermukim secara tetap di Batu.

Peninggalan arsitektur yang kental dengan nuansa dan corak Eropa pada penjajahan Belanda dalam dominasi bentuk sebuah bangunan kuno yang ada dan masih dapat kita nikmati sampai saat ini serta panorama alam yang indah di kawasan Batu sempat membuat Bapak Proklamator sebagai The Father Foundation of Indonesia yaitu Bung Karno dan Bung Hatta setelah kejadian masa Perang Kemerdekaan datang untuk mengunjungi dan beristirahat dikawasan Selecta Batu.

Situs dan bangunan-bangunan peninggalan Belanda atau semasa Pemerintahan Hindia Belanda itupun masih berbekas dan tersisa sampai sekarang tentang jejak-jejak kehadiran belanda di masa lalu,bahkan menjadi aset dan menjadi beberapa destinasi kunjungan Wisata sejarah hingga saat ini. Begitu kagum dan terpesonanya Bangsa Belanda atas keindahan dan panorama di kota wisata Batu pada waktu itu, sehingga bangsa Belanda dapat memberikan penilaian bahwa wilayah kota wisata Batu pantas disebut dengan sebuah negara di Eropa yaitu Switzerland karena keindahan yang sangat mirip dan memberikan sebutan kota wisata batu pada masa itu sebagai De Klein Switzerland atau Swiss kecil di Pulau Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *